Phidias
seniman yang mampu mengubah batu menjadi dewa yang tampak bernapas
Pernahkah kita berdiri di depan sebuah patung, menatap matanya, dan merasa seolah-olah patung itu akan mengambil napas pada detik berikutnya?
Ada sebuah sensasi aneh yang mengalir di tengkuk saat kita melihat benda mati yang tampak begitu hidup. Dalam dunia psikologi modern, kita mengenal konsep pareidolia, yaitu kecenderungan otak kita untuk mencari wajah manusia di benda mati. Namun, bagaimana jika ilusi kehidupan itu tidak terjadi secara tidak sengaja? Bagaimana jika ada seseorang yang sengaja meretas persepsi visual manusia untuk menciptakan sosok dewa yang seolah-olah bisa bernapas?
Mari kita mundur ke abad ke-5 Sebelum Masehi, ke jalanan Athena yang berdebu namun dipenuhi gagasan cemerlang. Di sinilah saya ingin mengajak teman-teman berkenalan dengan seorang pria bernama Phidias.
Sejarah mengenalnya sebagai pematung terhebat di zaman kuno. Namun, jika kita membedahnya dari kacamata sains dan psikologi, Phidias bukanlah sekadar pematung. Ia adalah seorang ahli ilusi, seorang jenius neuroaesthetics pertama di dunia, jauh sebelum istilah itu sendiri diciptakan. Di tangannya, bongkahan batu dan gading tidak lagi menjadi benda mati. Mereka berubah menjadi detak jantung.
Untuk memahami kejeniusan Phidias, kita harus melihat bagaimana otak kita memproses keindahan. Ilmu neuroaesthetics menunjukkan bahwa saat kita melihat karya seni yang luar biasa proporsional, pusat penghargaan di otak kita melepaskan dopamin. Kita merasa puas, kagum, dan terhubung secara emosional.
Phidias sangat memahami efek psikologis ini. Saat pemimpin Athena, Pericles, memberinya proyek gila untuk membangun kembali kota yang hancur karena perang, Phidias tidak hanya memahat secara buta. Ia menggunakan perhitungan matematis yang presisi untuk memanipulasi mata manusia.
Contoh terbaiknya adalah teknik yang ia gunakan: chryselephantine. Ini adalah seni menggabungkan emas (chrysos) dan gading gajah (elephantinos). Mengapa gading? Karena di bawah cahaya obor kuil yang temaram, gading memiliki sifat memantulkan dan menyerap cahaya yang sangat mirip dengan epidermis kulit manusia sejati.
Saat orang-orang Yunani kuno masuk ke dalam kuil Athena Parthenos, mereka tidak melihat tumpukan material. Di tengah cahaya yang menari-nari, otak mereka tertipu. Permukaan gading itu tampak hangat, bercahaya, dan lembut seperti kulit yang dialiri darah. Phidias tidak sekadar membuat patung yang besar. Ia merekayasa sebuah pengalaman sensorik yang membuat manusia merasa sedang berhadapan langsung dengan entitas dari dimensi lain.
Puncak dari ambisi Phidias lahir di Olympia. Ia ditugaskan membuat patung Zeus, sang raja para dewa. Dan di sinilah Phidias memainkan trik psikologis terbesarnya: psikologi kekaguman atau psychology of awe.
Penelitian modern menemukan bahwa ketika manusia dihadapkan pada sesuatu yang teramat besar dan di luar skala pemahaman mereka, ego kita secara otomatis menyusut. Kita merasa kecil, rapuh, namun sekaligus merasa terhubung dengan alam semesta. Phidias membangun patung Zeus dalam posisi duduk setinggi 12 meter di dalam kuil yang rasanya terlalu sempit untuk ukuran sebesar itu.
Efeknya sungguh mengerikan sekaligus memukau. Jika Zeus berdiri, kepalanya akan menjebol atap kuil. Pesan bawah sadar yang ditanamkan Phidias sangat jelas: kekuatan dewa ini tidak bisa ditampung oleh dinding buatan manusia. Siapapun yang melihatnya akan langsung merasa lututnya lemas. Patung itu pun dinobatkan sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno.
Namun, di tengah semua kejeniusan ini, ada satu hal yang luput dari perhitungan sang maestro. Kita bisa menciptakan dewa yang abadi di dalam kuil, tapi kita tidak bisa menghindari kecemburuan manusia di dunia nyata.
Ketika seseorang memiliki kekuatan untuk membuat dewa, musuh-musuh politiknya mulai bertanya: bukankah orang ini sudah menjadi terlalu sombong? Bukankah ia merasa setara dengan dewa itu sendiri? Sebuah jebakan yang mematikan sedang disiapkan untuk Phidias di Athena.
Ini adalah bagian dari sejarah yang jarang diceritakan dengan jujur, karena seringkali tertutup oleh kemegahan karya-karyanya.
Musuh-musuh politik Pericles tahu mereka tidak bisa menyerang sang pemimpin secara langsung. Jadi, mereka menyerang sahabat terdekatnya: Phidias. Tuduhan pertama dilontarkan. Phidias dituduh menggelapkan emas yang seharusnya digunakan untuk jubah patung Athena.
Namun, Phidias adalah orang yang rasional. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Ia mendesain jubah emas itu agar bisa dilepas. Saat di pengadilan, ia melepas jubah emas sang dewi, menimbangnya di depan umum, dan membuktikan bahwa tidak ada satu gram pun emas yang hilang. Otak saintifiknya menyelamatkannya dari tuduhan korupsi.
Tapi musuh-musuhnya tidak menyerah. Jika mereka tidak bisa menghancurkannya dengan tuduhan pencurian, mereka akan menghancurkannya dengan tuduhan penistaan agama.
Mereka menemukan "bukti" di perisai raksasa patung Athena. Di tengah relief peperangan epik yang diukirnya, Phidias secara diam-diam menyelipkan potret dirinya sendiri—seorang lelaki tua botak yang sedang mengangkat batu—bersama dengan potret Pericles. Bagi warga Athena kuno, menempatkan wajah manusia fana di benda suci milik dewa adalah hubris, kesombongan tertinggi yang tak termaafkan.
Sang pencipta dewa akhirnya diseret ke penjara. Manusia yang tangan dinginnya mampu membuat batu bernapas, pada akhirnya harus mati dalam dinginnya sel tahanan, atau menurut beberapa catatan lain, mati dalam pengasingan yang sepi. Karya terbesarnya, patung Zeus, pada akhirnya hancur lebur ditelan api beberapa abad kemudian.
Teman-teman, jika kita memikirkannya secara rasional, hari ini tidak ada satu pun karya asli Phidias yang tersisa. Semuanya telah hancur oleh perang, api, dan waktu. Kita hanya tahu bentuk patungnya dari replika buatan Romawi kuno atau dari deskripsi dalam teks-teks sejarah.
Lalu, mengapa namanya tetap abadi? Mengapa kita masih membicarakannya?
Karena warisan sejati Phidias bukanlah batu, emas, atau gading. Warisannya adalah bagaimana ia mengubah cara umat manusia memvisualisasikan keilahian. Bahkan, dalam dunia matematika modern, huruf Yunani Phi (Φ) digunakan untuk melambangkan Golden Ratio atau rasio emas, sebuah penghormatan untuk Phidias yang dianggap pertama kali mengaplikasikan proporsi matematis sempurna tersebut pada karya seninya.
Kisah Phidias mengajarkan kita sesuatu yang sangat mendalam tentang empati dan kreativitas manusia. Sains, matematika, dan pemahaman psikologis bukanlah kebalikan dari seni. Justru, ketika kita menggabungkan logika yang tajam dengan imajinasi yang liar, kita bisa melampaui batas-batas material. Kita bisa menciptakan sesuatu yang menyentuh jiwa orang lain.
Mungkin kita tidak bisa membuat patung Zeus. Tapi kita semua memiliki kemampuan yang sama seperti Phidias: kemampuan untuk meninggalkan "napas" kehidupan dalam apapun yang kita kerjakan, dan membiarkannya menginspirasi manusia lain, jauh setelah kita tiada.